✨ Saya menemukan Komunikasi Tanpa Kekerasan (NVC) ketika anak saya lahir, pada saat saya mendambakan hubungan yang lebih dalam dengan pasangan saya dan lebih banyak ruang untuk dialog yang jujur. NVC memberi kami alat untuk tetap berhubungan satu sama lain dan secara alami menjadi bagian dari perjalanan pengasuhan anak kami. Transformasi pribadi ini meyakinkan saya bahwa empati bukan hanya cara berkomunikasi tetapi juga cara hidup dengan autentik dan penuh perhatian.
Selama beberapa tahun, saya telah memimpin kelompok empati untuk komunitas lokal saya, dan saya sangat terinspirasi oleh perjalanan ini bersama dengan Program Sertifikasi Komunitas, bersama orang-orang yang berkomitmen untuk menerapkan NVC (Komunikasi Tanpa Kekerasan) dalam kehidupan sehari-hari mereka. Cinta saya kepada putra saya, hasrat saya untuk menjalin hubungan, dan kepercayaan saya pada empati sebagai kekuatan untuk perubahan sosial adalah hal-hal yang menopang saya dalam pekerjaan ini.
Lokakarya bersama saya adalah sebuah proses yang dapat membuka hati terhadap kerentanan dan menciptakan penerimaan penuh terhadap apa adanya. Saya terinspirasi oleh perjalanan saya dan waktu yang saya habiskan tinggal di luar negeri, terutama di Asia, tempat saya tinggal selama beberapa bulan. Pengalaman-pengalaman ini memungkinkan saya untuk menyaksikan keindahan keragaman budaya dan tantangan yang muncul dari kesalahpahaman. Perjalanan memberi saya perspektif global yang kini saya terapkan dalam pekerjaan saya, mengingatkan saya bahwa alat-alat NVC dapat mendukung koneksi di mana pun di dunia, tanpa memandang bahasa atau latar belakang.
Yang ingin saya sampaikan tentang diri saya adalah bahwa saya menempuh jalan ini bersama para peserta pelatihan. Saya tidak menganggap diri saya sebagai seorang ahli yang memiliki semua jawaban, tetapi sebagai sesama manusia yang belajar setiap hari. Saya pun terkadang bergumul dengan konflik, ketidaksabaran, atau rasa takut. NVC memberi saya cara untuk kembali kepada diri sendiri dan memilih untuk terhubung bahkan ketika terasa sulit. Kerendahan hati inilah yang saya bawa ke ruang pelatihan: ajakan untuk berlatih bersama, membuat kesalahan, belajar, dan merayakan kemajuan.
Saya memandang peran saya sebagai seorang pelatih sebagai sebuah tindakan pelayanan: untuk mendukung orang-orang dalam menemukan suara mereka, memperdalam hubungan mereka, dan berkontribusi pada dunia yang lebih penuh kasih sayang. Setiap lokakarya adalah langkah dalam perjalanan itu, dan saya merasa terhormat setiap kali seseorang memilih untuk menempuhnya bersama saya ✨