Pelatih Bersertifikat CNVC | Fasilitator | Pendidik | Praktisi Kepemimpinan Berempati | Pendiri Bersama Yayasan Karuna Bali
Wayan Rustiasa adalah Pelatih Bersertifikat dalam Komunikasi Tanpa Kekerasan (NVC) dari Center for Nonviolent Communication (CNVC), seorang pendidik, fasilitator, dan pembelajar seumur hidup dari Bali, Indonesia. Karyanya berakar pada komitmen mendalam untuk memelihara hubungan antarmanusia, menumbuhkan welas asih, dan mendukung individu serta komunitas dalam menemukan kembali keutuhan diri mereka yang hakiki.
Lahir dan besar di Bali, pemahaman Wayan tentang kehidupan sangat dipengaruhi oleh tradisi budaya dan spiritual Bali, khususnya nilai-nilai keterhubungan, harmoni, rasa syukur, dan penghormatan terhadap kehidupan. Landasan-landasan ini terus membentuk pendekatannya terhadap transformasi pribadi, pendidikan, kepemimpinan, dan pengembangan masyarakat.
Perjalanan Pendidikan dan Pelayanan
Pada tahun 2007, Wayan ikut mendirikan Yayasan Karuna Bali (Yayasan Karuna Bali), sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk memberdayakan kaum muda melalui pendidikan, pengembangan pribadi, dan pembelajaran berbasis nilai. Melalui inisiatif pendidikannya, Campuhan College, yayasan ini telah mendukung ratusan anak muda Indonesia dalam mengembangkan keterampilan komunikasi, kesadaran diri, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk berkontribusi secara bermakna bagi masyarakat mereka.
Sebagai salah satu pendiri dan Ketua Dewan Yayasan, Wayan terus mendukung visi yayasan tentang pendidikan yang tidak hanya menumbuhkan pengetahuan dan keterampilan praktis, tetapi juga karakter, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Perjalanan profesionalnya meliputi fasilitasi pengembangan kepemimpinan, Pendidikan Nilai-Nilai Kehidupan, program pengembangan pribadi, dan pelatihan komunikasi. Sepanjang pengalaman ini, ia semakin tertarik pada dimensi batin perilaku manusia, khususnya bagaimana orang berhubungan dengan diri mereka sendiri, menanggapi konflik, dan mencari koneksi serta rasa memiliki.
Menemukan Komunikasi Tanpa Kekerasan
Perjalanan Wayan dengan Komunikasi Tanpa Kekerasan dimulai pada tahun 2012 ketika ia diperkenalkan dengan karya Dr. Marshall B. Rosenberg melalui Dorset Campbell-Ross. Apa yang awalnya merupakan eksplorasi pendekatan komunikasi secara bertahap menjadi perjalanan pribadi yang mendalam tentang penemuan diri dan transformasi.
Pada tahun 2016, ia memulai Proses Sertifikasi CNVC. Perjalanannya berlangsung selama bertahun-tahun, di samping tanggung jawab keluarga, tantangan kesehatan, komitmen profesional, dan pembelajaran pribadi yang berkelanjutan. Alih-alih memandang pengalaman-pengalaman ini sebagai gangguan, Wayan menyadari bahwa pengalaman tersebut merupakan kesempatan untuk memperdalam pemahamannya tentang welas asih, kerentanan, penerimaan, dan kehadiran.
Pada September 2026, ia menjadi Pelatih Bersertifikasi CNVC, menandai tonggak penting dalam perjalanan yang terus berkembang.
Salah satu realisasi terpentingnya adalah pergeseran dari upaya mempraktikkan Komunikasi Tanpa Kekerasan (NVC) dengan benar menuju perwujudan kesadaran NVC dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Wayan, Komunikasi Tanpa Kekerasan lebih dari sekadar metode untuk mengekspresikan perasaan dan kebutuhan. Ini adalah ajakan untuk mengubah cara kita memandang diri sendiri dan orang lain, terutama pada saat-saat kesedihan, penghakiman, konflik, dan keterasingan.
Ia percaya bahwa di balik penilaian manusia, perilaku protektif, dan reaksi, terdapat kebutuhan manusia universal dan sesuatu yang berharga yang membutuhkan perhatian dan pemahaman.
Kasih Sayang sebagai Cara Hidup
Inti dari karya Wayan adalah sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam: Apa yang menjadi mungkin ketika kita bertemu dengan diri kita sendiri dan orang lain dengan rasa ingin tahu, bukan dengan penghakiman?
Pendekatannya mengintegrasikan Komunikasi Tanpa Kekerasan, empati diri, kesadaran penuh, kepemimpinan reflektif, dan wawasan dari perkembangan manusia dan tradisi spiritual.
Ia sangat tertarik untuk mengeksplorasi bagaimana pola perlindungan yang sudah menjadi kebiasaan, luka emosional, dan keyakinan yang membatasi dapat menjadi pintu gerbang menuju pemahaman diri yang lebih besar, alih-alih menjadi hambatan yang harus diatasi.
Melalui lokakarya, retret, pelatihan, dan fasilitasi kelompok, Wayan menciptakan peluang bagi orang-orang untuk mengeksplorasi pengalaman batin mereka, mengenali kebutuhan yang mendasari perilaku mereka, dan menemukan kemungkinan baru untuk berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain.
Pendekatan fasilitasi yang ia terapkan menekankan kehadiran, keaslian, keamanan emosional, kebebasan memilih, dan penghormatan terhadap perjalanan unik setiap individu. Alih-alih memposisikan diri sebagai seseorang yang memiliki jawaban, ia berupaya mendampingi orang lain dalam menemukan kebijaksanaan dan kapasitas transformasi mereka sendiri.
Menjembatani Transformasi Batin dan Perubahan Sosial
Wayan percaya bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan dimulai dengan mengubah kualitas hubungan kita, termasuk hubungan yang kita miliki dengan diri kita sendiri.
Karyanya meluas melampaui pengembangan individu hingga keluarga, sekolah, tempat kerja, dan komunitas. Ia sangat bersemangat untuk membawa komunikasi yang penuh kasih sayang ke dalam pendidikan, mendukung orang tua dan guru, memberdayakan kaum muda, dan mendorong kepemimpinan yang berlandaskan kemanusiaan bersama, bukan dominasi atau ketakutan.
Pada tahun 2026, ia ikut mendirikan Yayasan Maswara Asih Indonesia, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mempromosikan komunikasi yang sadar, welas asih, kepemimpinan reflektif, hubungan penyembuhan, dan transformasi sosial yang damai.
Ia membayangkan komunitas di mana perbedaan dapat didekati dengan rasa ingin tahu, konflik dapat menjadi peluang untuk saling memahami, dan martabat serta kebutuhan manusia dihormati.
Kembali pada Kesempurnaan
Di samping pekerjaan profesionalnya, Wayan terus mengeksplorasi dimensi yang lebih dalam dari pengalaman manusia melalui kontemplasi, penyelidikan spiritual, dan penulisan.
Tema yang berulang dalam eksplorasinya adalah pemahaman bahwa keutuhan bukanlah sesuatu yang harus kita capai, peroleh, atau layak dapatkan. Sebaliknya, itu adalah sesuatu yang dapat kita ingat dan hubungkan kembali di balik lapisan ketakutan, pengkondisian, dan keterpisahan.
Pemahaman ini menginspirasi karyanya yang sedang berkembang, The Way Home — Remembering the Wholeness We Never Lost, sebuah ajakan untuk mengeksplorasi rasa memiliki, esensi, kasih sayang, dan perjalanan kembali kepada diri kita sendiri.
Bagi Wayan, jalan welas asih bukanlah tentang menjadi pribadi yang sempurna atau menghilangkan penderitaan. Ini tentang belajar menghadapi kehidupan sebagaimana adanya dengan kesadaran, kelembutan, keberanian, dan keterbukaan yang lebih besar.
Ia terus tinggal dan bekerja di Bali, berbagi ilmunya sambil tetap menjadi pembelajar kehidupan, hubungan, dan kebijaksanaan yang ditemukan dalam pengalaman manusia sehari-hari. Cita-cita terbesarnya adalah berkontribusi pada dunia di mana orang dapat mengingat kemanusiaan mereka bersama, menghargai nilai kehidupan, dan mengalami welas asih bukan hanya sebagai sesuatu yang mereka praktikkan, tetapi sebagai ekspresi alami dari jati diri mereka.