Saya Peter Claes, tinggal di Brussels. Saya seorang terapis tubuh dan bicara, konsultan perubahan, dan pelatih kepemimpinan dan komunikasi. Saya bekerja berdasarkan keyakinan pribadi yang mendalam bahwa tubuh dan empati adalah gerbang menuju transformasi dan penyembuhan — dalam diri kita sendiri, dalam hubungan kita, dan dalam organisasi. Dulu tidak selalu seperti ini. Selama bertahun-tahun, saya didorong oleh kebutuhan yang tak henti-hentinya untuk berprestasi dan menyenangkan orang lain. Pencarian saya akan persetujuan perlahan-lahan menguras energi saya. Dari luar, saya tampak sukses — namun di dalam, saya semakin tenggelam, hingga suatu hari tanggal 29 Desember, berdiri dengan ikat pinggang di tangan, saya menatap tangga dan merasa benar-benar kehilangan arah.
Momen itu menjadi titik balik.
Melalui terapi, introspeksi, studi, dan pelatihan selama bertahun-tahun, saya belajar untuk beralih dari kebencian diri dan pola destruktif menuju penghargaan dan penerimaan diri. Dengan kepercayaan dan kelembutan, saya mulai bertanggung jawab atas apa yang menjadi milik saya — dan mengembalikan apa yang bukan milik saya. Saat ini, saya menemani orang lain dalam perjalanan yang sama: untuk menemukan kembali inti diri mereka, untuk terhubung kembali dengan apa yang hidup di dalam diri mereka, dan untuk membawa kasih sayang dan kejelasan ke dalam hubungan mereka — di rumah, di tempat kerja, dan dalam kehidupan.
Sebagai konsultan dan pelatih kepemimpinan, saya memiliki lebih dari 25 tahun pengalaman dalam komunikasi, manajemen SDM, dan perubahan organisasi. Saya membantu tim dan pemimpin membangun budaya umpan balik, mengatasi resistensi, dan menciptakan kolaborasi berkelanjutan yang berlandaskan empati, ketahanan, dan akuntabilitas. Dalam setiap program yang saya rancang atau fasilitasi, saya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pola-pola yang tidak terlihat, mendorong dialog otentik, dan membimbing orang menuju kepemimpinan yang sadar dan terwujud.
Pekerjaan saya mengintegrasikan Komunikasi Tanpa Kekerasan (NVC), kesadaran tubuh, dan perspektif sistemik. Saya percaya bahwa transformasi sejati terjadi ketika kita menyertakan semua bagian dari diri kita — pikiran, hati, dan tubuh — dan ketika kita bertemu orang lain dengan kehadiran dan empati.