Diadopsi pada usia enam setengah tahun, saya tumbuh dengan kepekaan yang mendalam terhadap hubungan dan luka batin yang tak terlihat.
Setelah perjalanan pribadi yang ditandai dengan bertemu keluarga kandung saya dan kelahiran putri saya, saya memulai proses penyembuhan batin yang mendalam, didukung oleh penemuan Komunikasi Tanpa Kekerasan (NVC). Bagi saya, NVC bukan hanya alat komunikasi — tetapi kompas batin dan kolektif yang membimbing kita kembali terhubung dengan diri sendiri dan orang lain, membuka pintu menuju penyembuhan.
Saat ini, saya adalah Pelatih Bersertifikat dalam NVC dan terapis kecerdasan relasional. Dalam pendekatan saya, saya mengintegrasikan NVC, teori keterikatan, teori polivagal, Sistem Keluarga Internal (IFS), dan terapi berbasis tubuh untuk mendukung penyembuhan trauma dan menumbuhkan ketahanan relasional. Saya mendampingi orang tua, anak angkat, profesional, dan organisasi dengan menciptakan ruang untuk mendengarkan secara mendalam, menerima, dan transformasi.
Melalui semua pekerjaan ini, saya merajut benang merah yang sama: ketahanan. Memulihkan hubungan di tempat yang telah rusak, membawa makna di tempat yang telah terjadi kekacauan, dan menawarkan kelembutan di tempat yang telah terjadi kekerasan. Saya percaya bahwa dunia yang lebih manusiawi dimulai dengan ruang-ruang yang lebih manusiawi — dalam keluarga, sekolah, layanan kesehatan, tempat penampungan, dan tempat kerja. Dan saya percaya, dengan kekuatan dan kerendahan hati, bahwa dengan berani mengambil langkah pertama ke dalam diri, kita benar-benar dapat berhubungan, menyembuhkan… dan mewariskan cara hidup yang berbeda.
Lalu, ada hal yang memberi warna pada hidupku: aku suka memasak — itu adalah bahasa cintaku. Aku menikmati berkumpul bersama orang-orang, berbagi, dan menciptakan koneksi di sekitar hidangan yang lezat. Bagiku, keramahan adalah bentuk kepedulian, cara untuk mengatakan "Aku mencintaimu" tanpa kata-kata. Karena pada intinya, hidup adalah sebuah perayaan — sesuatu yang harus dinikmati di setiap momen. Mantraku: "Satu Kehidupan" — jadi aku memilih untuk menjalaninya sepenuhnya, dengan sepenuh hati, dengan cita rasa, dan dengan koneksi.
Adoptée à 6 ans et demi, j’ai grandi avec une grande sensibilité aux liens et aux blessures invisibles.
Après un parcours personnel marqué par la rencontre avec ma famille biologique et la naissance de ma fille, j’ai entamé un travail intérieur profond, soutenu par la découverte de la Communication NonViolente (CNV).
Pour moi, la CNV n’est pas qu’un outil de communication — c’est une boussole intérieure et collective, qui guide vers la reconnexion à soi et aux autres, ouvrant la voie à la guérison.
Aujourd’hui, je suis formatrice certifiée en CNV et thérapeute en intelligence relationnelle.
J’intègre dans mon approche la CNV, la théorie de l’attachement, la théorie polyvagale, l’IFS (Internal Family Systems) et le travail corporel pour accompagner la guérison des traumatismes et cultiver la résilience relationnelle.
J’accompagne parents, personnes adoptées, professionnels et organisations en créant des espaces d’écoute, d’accueil et de transformation profonde.
À travers toutes ces actions, je tisse un fil rouge : celui de la résilience.
Remettre du lien là où il a été rompu, du sens là où il y a eu du chaos, de la tendresse là où il y a eu de la dureté.
Je crois qu’un monde plus humain commence par des espaces plus humains — dans les familles, les écoles, les lieux de soin, les structures d’accueil, les entreprises.
Et je crois, avec force et humilité, que c’est en osant faire ce premier pas vers soi que l’on peut vraiment entrer en relation, guérir… et transmettre autrement.
Et puis, il y a aussi ce qui met du sel dans ma vie : j’adore cuisiner — c’est mon langage de l’amour. J’aime rassembler, partager, créer du lien autour d’un bon plat.
Pour moi, la convivialité est une forme de soin, une manière de dire « je t’aime » sans mots.
Parce que la vie, au fond, est une fête à savourer à chaque instant.
Mon mantra : “One Life” — alors autant vivre pleinement, avec cœur, avec goût, et avec du lien.