Langsung ke konten utama

Sebuah studi eksplorasi

Strategi komunikasi tanpa kekerasan untuk guru sekolah menengah menggunakan pendekatan Lingkaran Pembelajaran Berkualitas (Quality Learning Circle)

Tesis Magister oleh Hooper, Lee. dalam Bahasa Inggris (2015)
Universitas Canterbury. Repositori Penelitian UC

Guru memainkan peran penting dalam memfasilitasi pembelajaran. Cara mereka membangun hubungan dengan siswa sangat penting untuk memastikan bahwa lingkungan kelas mendukung pertumbuhan akademis dan pribadi siswa (Evans & Harvey, 2012). Dengan menyadari pentingnya hubungan di dalam kelas dan pengaruhnya terhadap perilaku siswa, tujuan penelitian ini mengambil dua jalur.

Pertama, penelitian ini melibatkan eksplorasi tentang bagaimana pendekatan yang berpusat pada individu dapat membantu memfasilitasi hubungan positif dalam konteks pendidikan. Pendekatan yang disebut Komunikasi Tanpa Kekerasan (NVC) dipilih karena potensinya untuk meningkatkan empati guru, keterampilan komunikasi interpersonal, serta menumbuhkan persepsi dan reaksi yang kurang menghakimi terhadap perilaku siswa yang menantang (Rosenberg, 2003a).

Kedua, model Lingkaran Pembelajaran Berkualitas (Quality Learning Circle/QLC) digunakan sebagai metode untuk mempraktikkan dan berbagi pengalaman guru dalam mempelajari Komunikasi Tanpa Kekerasan (Nonviolent Communication/NVC) bersama-sama secara kolegial dan berdasarkan pengalaman. Pendekatan kolaboratif dipilih untuk mengatasi guru yang bekerja sendiri dengan harapan bahwa berbagi tanggung jawab dalam pengarahan dan pengambilan keputusan akan mendorong pemberdayaan di antara para guru. Oleh karena itu, selain menganalisis NVC secara kritis, studi ini juga meneliti dampak QLC terhadap pembelajaran profesional guru. Studi ini memiliki fokus konten (yaitu, mempelajari potensi NVC) dan pada saat yang sama, fokus proses (yaitu, mengeksplorasi potensi pendekatan kelompok kecil untuk pembelajaran profesional guru guna berbagi dan memperoleh wawasan tentang praktik mereka).

Studi ini melibatkan empat guru sekolah menengah dari dua sekolah perkotaan di Selandia Baru.

Para guru ini menghadiri tujuh pertemuan QLC selama satu semester sekolah, dan menyelesaikan wawancara awal dan akhir untuk menentukan dampak dan potensi baik isi (NVC) maupun proses (QLC) dari penelitian ini. Selain itu, catatan lapangan diambil untuk membantu mendokumentasikan perjalanan para guru selama QLC. Paradigma interpretatif, yang berpusat pada analisis tematik, digunakan sebagai sarana untuk menganalisis dan menafsirkan temuan guna menjelaskan bagaimana NVC berkontribusi pada hubungan guru-siswa yang positif, serta bagaimana QLC memberi para guru cara baru untuk terlibat dalam pembelajaran profesional.

Para guru melaporkan bahwa mempelajari NVC membantu mereka menghindari penggunaan penilaian dan meningkatkan kesadaran emosional mereka di dalam kelas. Secara khusus, mereka menggunakan proses dalam NVC untuk membantu mengatur emosi mereka ketika menghadapi situasi sulit, serta secara sengaja terlibat dalam dialog yang lebih terbuka dengan siswa mereka.

Selain itu, mereka juga menggunakan NVC sebagai alat untuk merefleksikan secara kritis keyakinan mengajar mereka sendiri dan bagaimana keyakinan tersebut memengaruhi interaksi yang mereka miliki dengan siswa mereka. Para guru juga menegaskan bahwa aspek kolaboratif, pengalaman, dan dukungan dari QLC menyediakan lingkungan di mana mereka dapat dengan aman mempraktikkan pendekatan baru. Melalui kebersamaan dengan cara ini, para guru menciptakan ruang di mana mereka dapat secara terbuka mendiskusikan ide, berbagi pengalaman, dan bersama-sama menciptakan solusi untuk masalah kontekstual umum. Implikasi dari penelitian ini ada dua: Pertama, penelitian ini menyoroti bagaimana program berbasis empati berpotensi meningkatkan keterampilan pengaturan diri emosional dan kemampuan pengambilan perspektif guru. Kedua, penelitian ini menunjukkan manfaat dari penataan pembelajaran profesional guru dengan cara yang mendorong partisipasi aktif, pembelajaran berkelanjutan, dan penciptaan budaya kolaboratif. Karena guru semakin sering mengalami stres dan isolasi dalam profesi mereka, kedua elemen penelitian ini relevan dengan kesejahteraan mereka, serta kesejahteraan siswa yang mereka ajar.