Otoritas dalam Kehidupan Religius: Tentang Pentingnya Gaya Kepemimpinan Tanpa Kekerasan
Pertanyaan tentang otoritas dalam kehidupan religius telah banyak diperdebatkan di dalam Gereja. Para sarjana seperti Franc Card. Rode dan Gianfranco A. Gardin menegaskan bahwa otoritas dari para pemimpin religius/yang dikuduskan “harus mencari wajah Tuhan”: “Orang-orang yang berwenang harus terlebih dahulu mengembangkan dalam diri mereka keterbukaan untuk mendengarkan orang lain dan tanda-tanda zaman serta mempromosikan martabat pribadi.” Gerald McConnell juga berpendapat bahwa otoritas para pemimpin religius harus berbeda dari otoritas hukum. Otoritas tersebut tidak boleh pernah menjadi otoritas untuk kekuasaan atas orang lain, tetapi haruslah otoritas yang menyerupai Kristus yang berakar pada kuasa Roh Kudus. Otoritas di dalam Gereja bukanlah untuk dominasi tetapi untuk pelayanan. Namun, perspektif pelayanan ini belum ditangani secara memadai setelah Konsili Vatikan Kedua. Dalam artikel ini, kita akan memperhatikan masalah bagaimana mendengarkan (dialog) dan berkomunikasi dengan cara yang tidak kekerasan, yang diilhami oleh gagasan bahwa otoritas dimaksudkan sebagai pelayanan.
Penelitian kami membahas isu penggunaan wewenang untuk pelayanan, dengan fokus pada mendengarkan dan berdialog, khususnya komunikasi tanpa kekerasan. Dalam penelitian ini, kami akan mengeksplorasi prinsip-prinsip komunikasi tanpa kekerasan Marshall Rosenbergkarena prinsip-prinsip tersebut dapat membantu kita dalam menjalankan wewenang dalam kehidupan keagamaan. Kami akan membandingkannya dengan komunikasi kekerasan yang menghalangi belas kasih dan mendukung "kekuasaan atas" dan pelayanan yang buruk, untuk mengungkap hubungan yang secara tradisional disalahpahami antara wewenang untuk pelayanan dan dominasi. Kami berpendapat bahwa wewenang adalah untuk memenuhi kebutuhan orang dengan mengamati situasi mereka secara cermat, berhubungan dengan perasaan mereka untuk mengidentifikasi kebutuhan mereka, dan bersama-sama mengeksplorasi strategi positif untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan mengajukan permintaan yang dapat dilakukan. Prinsip-prinsip komunikasi tanpa kekerasan Marshall Rosenbergmenawarkan alat praktis untuk dialog, kepemimpinan, dan peningkatan martabat manusia. Prinsip-prinsipnya dapat dipelajari dan dipraktikkan.